DAIRI – Mediamutiara. Com Suasana di depan Mapolres Dairi memanas. Gelombang kemarahan publik meledak lewat aksi besar-besaran yang digelar oleh Forum Peduli Penegakan Keadilan dan Hukum (FPPKH). Puluhan massa yang merupakan gabungan elemen pemuda dari KNPI, IPK, GMNI, HMI, PMII, IPNU, hingga Pemuda Muhammadiyah, turun ke jalan menuntut keadilan atas kasus pengeroyokan yang menimpa Iwan, putra dari Anggiat Bintang.
Aksi ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Di balik teriakan massa, tersimpan kekecewaan mendalam atas lambannya penegakan hukum dan dugaan adanya “main-main” dalam proses penyidikan. Mereka tak hanya menuntut penyelesaian kasus kekerasan ini, tapi juga menyerukan reformasi birokrasi di tubuh kepolisian agar hukum benar-benar berlaku adil bagi semua orang.
Di barisan depan, Anggiat Bintang selaku ayah korban melontarkan ultimatum keras langsung kepada aparat penegak hukum. Ia tak lagi mau bertele-tele dengan birokrasi yang berbelit-belit.
“Kami beri pilihan jelas. Jika keenam pelaku berhasil ditangkap seluruhnya, kami siap selesaikan secara kekeluargaan. Namun, jika dua pelaku yang masih buron tidak segera diamankan, jangan salahkan kami jika hukum rimba yang akan bertindak,” ujar Anggiat dengan nada tegas di hadapan Kapolres Dairi dan jajarannya.
Pernyataan ini merupakan puncak dari frustrasi keluarga dan masyarakat. Mereka mempertanyakan logika hukum: bagaimana bisa pelaku masih bebas berkeliaran meski bukti pengeroyokan sudah sangat jelas dan kuat? Ketidakjelasan status hukum ini memicu dugaan kuat adanya praktik “jual beli keadilan” yang merajalela.
FPPKH menegaskan, mereka tidak akan mundur. Kasus ini akan terus dikawal sampai titik darah penghabisan. Membiarkan Daftar Pencarian Orang (DPO) tetap bebas sama saja dengan menistakan hukum dan membiarkan kejahatan terus terjadi di Dairi.
Peringatan ini jelas: Hukum harus bekerja cepat dan tegas, atau masyarakat akan mengambil jalan sendiri untuk menegakkan keadilan.
(LTH)
























