Dairi — Mediamutiara.Com – Gelombang kekecewaan dan rasa sakit hati melanda jemaat Gereja Kristen Kemah Daut (GKKD). Nama Dorma Simanjuntak, yang diketahui berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan bertugas sebagai guru agama di SD Tambang Timah, Kecamatan Tana Pinem, Desa Lau Primbon, menjadi sorotan tajam atas serangkaian perbuatan dan ucapan yang dinilai sangat merugikan, menyakiti hati, serta mencemarkan nama baik jemaat.
Pihak jemaat dengan lantang menyuarakan kekecewaannya, menyebut bahwa perlakuan Dorma Simanjuntak jauh dari nilai-nilai iman dan etika, apalagi keduanya pernah bahu-membahu membangun gereja ini sejak awal berdirinya. Dulu, jemaat dan Dorma masih berjalan seiring, bekerja sama membina rumah ibadah ini dengan penuh semangat dan persaudaraan. Bahkan, saat suami Dorma Simanjuntak jatuh sakit, seluruh jemaat meluangkan waktu, tenaga, dan perhatian besar untuk merawat dan mendampingi keluarga tersebut.
Namun, harapan akan persaudaraan yang kokoh pupus sudah. Diduga, setelah suami Dorma Simanjuntak meninggal dunia, berubah pula sikap dan tutur katanya. Dorma kerap melontarkan tuduhan tak berdasar kepada jemaat, dengan mengatakan bahwa ada pihak di antara mereka—yang disebutnya Sanya—telah berselingkuh dengan almarhum suaminya. Tuduhan itu disertai dengan ucapan-ucapan kasar dan bahasa yang tidak pantas diucapkan sesama saudara seiman, apalagi oleh seseorang yang berprofesi sebagai pendidik.
Bukan hanya berhenti pada fitnah dan ucapan menyakitkan, Dorma Simanjuntak juga diduga sering melakukan intervensi. Ia kerap membujuk bahkan menekan jemaat GKKD agar meninggalkan gereja ini dan pindah ke gereja lain yang dibawa atau didirikan olehnya. Tindakan ini dianggap sangat mengganggu ketenangan ibadah dan merusak persatuan jemaat yang telah terjalin lama.
Tim wartawan Mediamutiara telah turun langsung ke lapangan dan menyambangi keluarga jemaat yang menjadi sasaran tuduhan tersebut. Mereka mengungkapkan rasa sakit hati yang mendalam. “Kami dulu bersama-sama membangun gereja ini. Ketika suaminya sakit, kami semua ada untuk membantu. Tapi setelah beliau tiada, justru kami difitnah, dituduh macam-macam, dan diucapi kata-kata yang tidak wajar. Ini sangat menyakiti hati kami semua,” ujar salah satu jemaat dengan nada kecewa.
Merespons situasi ini, Jemaat GKKD bersuara tegas namun tetap berharap kebaikan. “Kami sangat sakit hati atas semua ucapan dan perlakuan Dorma Simanjuntak. Kami berharap beliau segera menyadari kesalahannya, meminta maaf secara terbuka, dan menghentikan segala tindakan yang meresahkan jemaat. Kami masih mengutamakan jalan damai dan persaudaraan,” tegas perwakilan Jemaat.
Namun, ketegasan juga disampaikan sebagai batas akhir. Jika permintaan maaf dan perubahan sikap tidak dilakukan, jemaat GKKD menegaskan siap mengambil langkah hukum. “Jika tidak ada itikad baik, kami tidak akan diam saja. Kami siap melaporkan seluruh perbuatan ini kepada aparat penegak hukum demi mempertahankan nama baik dan ketertiban ibadah kami,” tambahnya.
Berita ini tentu menjadi perhatian serius bagi dinas terkait, baik itu dinas pendidikan mengingat status Dorma sebagai ASN pendidik, maupun instansi yang membina kehidupan beragama. Perilaku yang bertentangan dengan etika profesi dan nilai-nilai agama ini layak ditinjau dan ditindaklanjuti agar tidak terus meresahkan masyarakat dan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat serta beribadah.
Kini, mata publik dan pihak berwenang tertuju pada langkah selanjutnya. Apakah akan ada permintaan maaf dan perdamaian, atau kasus ini harus diselesaikan melalui jalur hukum?
(Tim/LTH)
























