Dairi – Mediamutiara.Com Suara lantang SOLIDARITAS PAPUA… dan SOLIDARITAS DAIRI UNTUK PAPUA…kini menggema, bukan sekadar ungkapan persaudaraan, melainkan seruan hati yang menyayat dan peringatan mengerikan bagi kita semua. Kisah kelam yang terjadi di tanah Papua, yang terungkap lewat film dokumenter “Pesta Babi”, membawa hawa dingin dan rasa merinding setiap kali disimak, seolah bumi sendiri berbisik tentang rasa sakit yang ditimbulkannya.
Film ini menyoroti bagaimana jutaan hektare hutan belantara di Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi, yang selama berabad-abad menjadi paru-paru bumi dan saksi bisu kehidupan suku Malind, Awyu, Muyu, dan Yei, kini berubah wajah. Hutan-hutan itu dibabat habis, digundalkan tanpa ampun untuk diubah menjadi perkebunan sawit, ladang tebu, dan kawasan lumbung pangan. Dahan-dahan tua yang menjadi tempat berteduh, akar yang menahan tanah agar tak runtuh, semuanya hilang dalam sekejap. Masyarakat adat yang lahir, tumbuh, dan menganggap tanah itu sebagai bagian dari jiwa mereka, kini terasing. Mereka kehilangan ruang hidup, kehilangan sumber makan, dan terputus dari akar leluhur. Tanah ulayat yang dulunya subur dan damai, kini berubah menjadi lahan dingin yang asing, seolah menelan identitas mereka hidup-hidup.
Situasi kelam ini memunculkan tuduhan keras akan adanya Kolonialisme Baru. Terbayang mengerikan bagaimana korporasi besar datang beriringan dengan aparat keamanan, menguasai wilayah adat tanpa pernah meminta izin atau mufakat dari warga setempat. Bagi masyarakat adat, ini bukan pembangunan, melainkan penjarahan hak hidup yang dibungkus dengan nama kemajuan. Perlawanan yang muncul justru dianggap gangguan, seolah keberadaan mereka di tanah sendiri menjadi halangan bagi kepentingan pihak luar.
Upaya menyuarakan kebenaran pun tidak berjalan mulus. Pemutaran film “Pesta Babi” di berbagai daerah dan kampus kerap dipaksa berhenti, dibubarkan secara sepihak dengan alasan dianggap provokatif dan sensitif. Namun, penekanan itu justru menjadi bumerang. Semakin ditutup-tutupi, semakin orang penasaran dan merinding membaca kisah di baliknya. Film ini menjadi viral, menyebar bagai api dalam sekam, dan membuka mata publik bahwa ada penderitaan panjang yang sengaja disembunyikan di ujung timur negeri.
Dan inilah pesan paling mendasar yang kini mengguncang hati masyarakat Kabupaten Dairi: Kita bersolidaritas dengan Papua, bukan hanya karena sedih melihat nasib mereka, tapi agar Dairi tidak menempuh jalan yang sama mengerikannya.
Kita mendengar rencana kedatangan investasi besar, rencana pembukaan lahan, dan masuknya berbagai proyek pembangunan melalui skema Daerah Penyangga Makanan (DPM) atau rencana pengembangan wilayah lainnya. Namun, kisah di Papua menjadi cermin mengerikan yang membuat bulu kuduk merinding jika terbayang hal serupa terjadi di tanah kita. Jangan sampai nanti, nama-nama wilayah adat kita, hutan-hutan keramat kita, dan sumber air yang kita minum hari ini, hilang lenyap digantikan perkebunan luas, sementara kita sebagai warga asli hanya bisa menatap dari jauh, menjadi orang asing di tanah kelahiran sendiri.
Jangan sampai kehadiran rencana pembangunan dan investasi di Kabupaten Dairi mengulangi sejarah kelam yang memisahkan manusia dari tanahnya, persis seperti yang dialami saudara kita di Papua. Jangan biarkan hutan Dairi yang rimbun berubah menjadi tanah gersang yang berbisik duka di malam hari.
Solidaritas ini adalah peringatan nyata: Nasib Papua bisa saja menjadi nasib Dairi, jika kita lengah dan membiarkan hak ulayat serta kelestarian alam dikorbankan demi keuntungan sesaat. Mari kita jaga tanah ini, agar tangisan bumi di Papua tidak kembali terdengar dari bukit-bukit Dairi kelak.
(Tim/LTH)
























