banner 728x250
Berita  

SAKIT HATI! Desa Bintang Mersada Jadi Tuan Rumah, Tapi Pemerintah Desa DICAP SEPERTI ASING di Acara MTQ

banner 120x600
banner 468x60

SIDIKALANG – Mediamutiara.com Suasana meriah dan riuh rendah semangat syiar Islam menyelimuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-51 Tingkat Kabupaten Dairi yang digelar di Desa Bintang Mersada, Selasa (12/5/2026). Ribuan warga, sekitar 2.000 orang, memadati lokasi, antusiasme luar biasa terpancar dari wajah warga yang ikut bergotong royong. Warga bahkan rela menyediakan konsumsi makan siang selama dua hari penuh untuk delapan cabang lomba, demi acara berjalan sukses dan lancar.

Namun, di balik kemeriahan yang tampak indah itu, ada rasa perih dan kekecewaan mendalam yang membara di dada Pemerintah Desa Bintang Mersada selaku tuan rumah. Ada rasa sakit hati yang tak terucap, merasa keberadaan mereka seolah dihapus, tak dianggap, dan disingkirkan mentah-mentah oleh panitia pelaksana!

banner 325x300

Kepala Desa Bintang Mersada, Uswatun Bintang, dengan nada kecewa yang tak bisa lagi dibendung, mengungkapkan kenyataan pahit ini kepada awak media. Ia menuturkan, selama rangkaian seremoni pembukaan yang sakral dan penting itu, nama serta perangkat desa seolah tak pernah ada.

Saat momen puncak, saat genderang dipukul sebagai tanda resmi dimulainya ajang bergengsi ini, Pemerintah Desa sama sekali tak dipanggil, tak diberi tempat, apalagi diberi kesempatan ikut terlibat. Lebih menyakitkan lagi! Dalam seluruh sambutan resmi yang dikumandangkan di hadapan ribuan orang, tak ada sepatah kata pun ucapan terima kasih ditujukan kepada warga maupun Pemerintah Desa Bintang Mersada. Padahal, tanah tempat acara berdiri, dukungan penuh, dan segala fasilitas yang ada, semuanya berasal dari keringat dan kerja keras warga desa ini!

“Kami dan seluruh masyarakat sudah bertekad bulat mendukung penuh, kami siapkan segalanya agar acara ini sukses besar. Kami sama sekali bukan mencari pujian atau penghormatan berlebih. Tapi ingatlah, kami ini TUAN RUMAH! Sudah sepantasnya kami dihargai, keberadaan kami diakui, dan peran kami dihormati. Tapi apa yang terjadi? Kami diperlakukan seperti orang asing, tak dianggap ada,” ungkap Uswatun dengan nada getir, sambil menahan kekecewaan yang meluap.

Ini bukan kali pertama lho, kejadian pahit ini terulang kembali! Uswatun mengaku hal serupa juga terjadi pada pelaksanaan MTQ sebelumnya. Luka lama yang belum kering, kini kembali disayat dan diperparah lagi oleh sikap panitia yang seolah tak peduli pada peran krusial desa tuan rumah.

Uswatun berharap, kejadian ini jadi pelajaran besar. Ke depannya, panitia penyelenggara harus benar-benar sadar: suksesnya acara besar tingkat kabupaten itu tak lepas dari peran, dukungan, dan kontribusi besar desa tempat acara dilaksanakan. Jangan sampai semangat gotong royong warga mati hanya karena sikap tak acuh dan kurangnya rasa penghargaan dari penyelenggara!

Rakyat sudah berkorban, rakyat sudah mendukung — jangan sampai hati rakyat disakiti lagi.

(LTH)

banner 325x300