banner 728x250

Lorena Tampubolon, Gadis Berdarah Kuansing Bersuku Paliang, Suarakan Masa Depan Pacu Jalur

banner 120x600
banner 468x60

TELUK KUANTAN — Mediamutiara.com  Di tengah gemuruh tepuk tangan, dentuman musik, dan sorak ribuan orang yang memadati tepian Sungai Kuantan, ada satu suara yang mengajak masyarakat berhenti sejenak untuk bertanya: untuk siapa sesungguhnya Pacu Jalur terus dibesarkan?

Suara itu datang dari Lorena Tampubolon, mahasiswa Magister Hukum Universitas Indonesia, gadis berdarah Kuansing dan anak urang Kopah, yang bersuku Paliang.

banner 325x300

Bagi Lorena, Pacu Jalur bukan sekadar festival tahunan. Ia adalah marwah. Ia adalah warisan nenek moyang. Ia adalah cerita tentang kampung, ninik mamak, anak pacu, kaum ibu, pemuda, para pembuat jalur, dan seluruh masyarakat yang bergotong royong menjaga tradisi.

Karena itu, menurut Lorena, ketika Pacu Jalur semakin dikenal dunia, masyarakat Kuantan Singingi tidak boleh hanya menjadi penonton dari perkembangan kebudayaannya sendiri.

“Pacu Jalur boleh mendunia, tetapi jangan sampai masyarakat pemilik budaya justru kehilangan ruang untuk menentukan arah masa depannya,” menjadi pesan penting yang disuarakannya.

Jangan Sampai Adat Hanya Jadi Hiasan

Lorena melihat modernisasi sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Teknologi, media sosial, pariwisata, sponsor, dan ekonomi kreatif dapat menjadi kekuatan besar untuk membawa Pacu Jalur semakin dikenal.

Namun, ia mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh berarti mengikis nilai adat.

Ninik mamak, tokoh adat, anak pacu, pemuda, kaum perempuan, serta masyarakat kampung harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam tata kelola kebudayaan.

Adat jangan hanya dipanggil ketika membuka acara, lalu dilupakan ketika keputusan penting dibuat.

Menurutnya, semakin besar Pacu Jalur, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga marwah yang melekat di dalamnya.

Generasi Muda Jangan Hanya Mengenal Pacu Jalur dari Layar

Fenomena Pacu Jalur yang viral di media sosial menjadi kebanggaan tersendiri. Namun Lorena mengingatkan bahwa viral bukan berarti memahami.

Generasi muda perlu mengetahui bagaimana sebuah jalur dibuat, siapa yang membuatnya, bagaimana gotong royong kampung bekerja, apa makna anak pacu, dan mengapa Sungai Kuantan begitu penting dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, digitalisasi menurutnya jangan berhenti pada membuat konten.

“Kita harus bergerak dari sekadar membuat konten menuju menciptakan pengetahuan tentang budaya,” ujarnya.

Sejarah setiap jalur, cerita para tetua kampung, filosofi adat, hingga perjuangan masyarakat mempertahankan tradisi perlu didokumentasikan agar tidak hilang ditelan zaman.

Jangan Hanya Ramai Lima Hari

Lorena juga menyentil persoalan ekonomi masyarakat.

Pacu Jalur memang mampu menggerakkan perdagangan, kuliner, penginapan, transportasi, UMKM, hingga ekonomi kreatif. Tetapi pertanyaannya sederhana:

Setelah festival selesai, apa yang tersisa untuk masyarakat?

Menurutnya, Pacu Jalur harus mampu melahirkan ekonomi berkelanjutan.

Desa asal jalur dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata. Proses pembuatan jalur dapat menjadi wisata edukasi. Kuliner dan kerajinan lokal dapat dipasarkan secara digital. Anak-anak muda dapat diberdayakan menjadi pemandu wisata, fotografer, videografer, dan pelaku ekonomi kreatif.

Dengan demikian, kemenangan Pacu Jalur tidak hanya terjadi di atas Sungai Kuantan.

Kemenangan sesungguhnya adalah ketika masyarakat di daratan ikut sejahtera.

Sungai Kuantan Jangan Dikorbankan Namun di balik kemeriahan Pacu Jalur, Lorena melihat persoalan yang jauh lebih fundamental: masa depan Sungai Kuantan.

Sungai yang menjadi panggung kebanggaan masyarakat itu harus tetap hidup.

Persoalan air keruh, pencemaran, kerusakan lingkungan, maupun dugaan aktivitas yang merusak sungai tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil. Setiap dugaan tentu harus dibuktikan dan ditindak sesuai hukum, tetapi kepedulian terhadap kondisi sungai tidak boleh menunggu sampai kerusakan menjadi parah.

Sebab ada sebuah pertanyaan yang patut direnungkan bersama:

Apa artinya Pacu Jalur mendunia jika sungai yang menjadi rumahnya justru kehilangan kehidupan?

Bagi Lorena, menjaga Sungai Kuantan bukan hanya tugas pemerintah. Ini tanggung jawab bersama—masyarakat, pemuda, ninik mamak, dunia usaha, aparat penegak hukum, dan seluruh elemen yang menikmati manfaat Pacu Jalur.

Pesan Seorang Gadis Berdarah Kuansing

Sebagai gadis berdarah Kuansing, bersuku Paliang dan anak urang Kopah, Lorena membawa kegelisahan sekaligus harapan.

Ia tidak ingin generasi muda Kuansing hanya bangga ketika budaya mereka viral.

Ia ingin mereka bangga karena memahami akar budayanya.

Ia tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton ketika Pacu Jalur semakin besar.

Ia ingin masyarakat menjadi pemilik dan penentu arah kebudayaan.

Dan ia tidak ingin Sungai Kuantan hanya dikenang sebagai tempat perlombaan.

Ia ingin sungai itu tetap menjadi rumah bagi kehidupan dan kebudayaan masyarakat Kuansing.

Pacu Jalur boleh berubah mengikuti zaman. Tetapi marwah tidak boleh dijual kepada zaman.

Teknologi boleh berkembang. Sponsor boleh datang. Wisatawan boleh semakin banyak. Pemerintah boleh menjadikan Pacu Jalur sebagai kekuatan pariwisata.

Tetapi fondasinya harus tetap sama:

adat dijunjung, masyarakat diberdayakan, pemuda dilibatkan, perempuan diberi ruang, ekonomi lokal diperkuat, hukum ditegakkan, dan Sungai Kuantan dijaga.

Sebab pada akhirnya, yang diwariskan kepada anak cucu bukan hanya siapa yang menjadi juara di tepian.

Yang jauh lebih penting adalah apakah kita berhasil menjaga marwah Kuantan Singingi tetap hidup.

Itulah suara Lorena Tampubolon mahasiswi Magister Hukum Universitas Indonesia, anak urang Kopah, bersuku Paliang, dan gadis berdarah Kuansing yang ingin melihat kampung halamannya maju tanpa kehilangan jati dirinya.(Boby)

banner 325x300