banner 728x250

34 TAHUN SUARANYA MENGHIDUPKAN PACU JALUR, KINI MASYARAKAT TERLUKA MELIHAT DT DARWIS DIHINA

banner 120x600
banner 468x60

KUANTAN SINGINGI — Mediamutiara.com Ada orang yang dikenal karena jabatannya. Ada yang dikenang karena kekuasaannya. Tetapi ada pula seseorang yang melekat di hati masyarakat karena puluhan tahun suaranya setia menemani sebuah tradisi.

Bagi masyarakat Kuantan Singingi, DT Darwis adalah bagian dari perjalanan panjang Pacu Jalur.

banner 325x300

Sejak tahun 1992 hingga hari ini, selama kurang lebih 34 tahun, suaranya terus terdengar dari Tepian Narosa. Generasi berganti, zaman berubah, Pacu Jalur tumbuh dari pesta rakyat menjadi kebanggaan yang dikenal luas, tetapi suara itu tetap ada.

Suara DT Darwis.

Suara yang menyebut nama-nama jalur dengan penuh semangat. Suara yang menghidupkan suasana tepian. Suara yang menemani kemenangan dan kekalahan. Suara yang bagi sebagian masyarakat Kuantan Singingi bahkan menjadi salah satu kenangan tentang kampung halaman.

Karena itu, ketika DT Darwis diduga menjadi sasaran ucapan yang merendahkan kehormatannya, yang terluka bukan hanya seorang Darwis secara pribadi.

Banyak masyarakat ikut merasakan luka itu.

Bukan karena DT Darwis tidak boleh dikritik. Bukan pula karena beliau harus ditempatkan sebagai seseorang yang tidak boleh disentuh kritik.

Tetapi ada perbedaan antara kritik dengan penghinaan, antara perbedaan pendapat dengan merendahkan martabat seseorang.

DT DARWIS BUKAN SEKADAR SEORANG KOMENTATOR

Tiga puluh empat tahun bukan waktu yang singkat.

Anak-anak yang dahulu mendengar suara DT Darwis di tepian sungai kini telah menjadi orang tua. Sebagian bahkan membawa anak-anak mereka kembali menyaksikan Pacu Jalur dan mendengar suara yang sama.

Itulah mengapa bagi banyak orang, DT Darwis telah melampaui kedudukannya sebagai seorang komentator.

Ia telah menjadi bagian dari ingatan kolektif Pacu Jalur.

Pacu Jalur tentu tidak pernah menjadi milik satu orang. Pacu Jalur adalah milik masyarakat Kuantan Singingi.

Namun dalam perjalanan panjang tradisi itu, ada orang-orang yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menjaganya. Dan DT Darwis adalah salah satunya.

Hari ini namanya mungkin diperdebatkan di media sosial.

Tetapi sejarah tidak dibangun dalam satu malam, dan pengabdian 34 tahun tidak dapat dihapus oleh satu gelombang komentar.

JANGAN BALAS PENGHINAAN DENGAN KEBENCIAN

Sebagai kuasa hukum DT Darwis, kami memahami kekecewaan masyarakat.

Namun kami meminta satu hal:

Jangan jadikan rasa cinta kepada DT Darwis sebagai alasan untuk membenci siapa pun.

Jangan membawa persoalan ini menjadi Batak melawan Melayu. Jangan menyeret Sumatera Utara berhadapan dengan Kuantan Singingi. Jangan pula menjadikan agama, suku ataupun budaya sebagai bahan untuk saling menyerang.

Persoalan ini adalah persoalan antarindividu yang sedang diuji melalui mekanisme hukum.

Masyarakat Batak adalah saudara kita. Masyarakat Sumatera Utara adalah saudara kita.

Satu dugaan perbuatan seseorang tidak pernah boleh menjadi alasan untuk menghakimi satu suku, satu daerah, ataupun satu komunitas.

Biarkan hukum mengurus perbuatannya. Kita menjaga persaudaraannya.

“KAMI TIDAK MEMBAWA KEMARAHAN, KAMI MEMBAWA BUKTI”

Langkah hukum yang ditempuh DT Darwis bukanlah ajakan untuk melakukan pembalasan.

Justru sebaliknya.

Ketika seseorang merasa kehormatannya dilanggar, negara menyediakan jalan yang jauh lebih bermartabat daripada saling memaki di media sosial: jalur hukum.

Kami telah memilih jalan itu.

Kami tidak meminta masyarakat menghukum siapa pun melalui media sosial. Kami juga tidak meminta publik menyatakan seseorang bersalah sebelum proses hukum selesai.

Kami datang kepada kepolisian membawa bukti, bukan membawa kemarahan.

Biarkan rekaman diperiksa.

Biarkan konteks diuji.

Biarkan saksi didengar.

Dan biarkan hukum menentukan hasil akhirnya.

SUARA ITU TELAH MENEMANI KUANSING SELAMA 34 TAHUN

Kelak perkara ini akan selesai.

Berita akan berganti.

Trending akan hilang.

Algoritma media sosial akan menemukan cerita baru.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih panjang daripada umur sebuah viralitas:

pengabdian.

Sejak 1992, dari satu Pacu Jalur ke Pacu Jalur berikutnya, suara DT Darwis terus menemani Tepian Narosa.

Tiga puluh empat tahun kemudian, suara itu masih ada.

Maka bagi masyarakat yang hari ini merasa terluka, jangan membalasnya dengan kebencian.

Jaga DT Darwis dengan doa.

Jaga Pacu Jalur dengan marwah.

Jaga Kuantan Singingi dengan persaudaraan.

Karena pada akhirnya, DT Darwis bukan hanya seorang laki-laki yang berdiri memegang mikrofon di tepian Sungai Kuantan.

Bagi banyak masyarakat, suaranya telah menjadi salah satu suara Pacu Jalur itu sendiri.

Dan selama Sungai Kuantan masih mengalir, selama dentuman meriam masih membuka perlombaan, selama anak-anak Kuansing masih berlari menuju tepian untuk menyaksikan jalur kebanggaannya berpacu—

34 tahun pengabdian itu akan tetap menjadi bagian dari cerita Kuantan Singingi.

IKHSAN, S.H., M.H., CLA., CPM.

Ketua Tim Kuasa Hukum DT Darwis.(***)

banner 325x300