DAIRI – Mediamutuara.Com Kondisi sangat memprihatinkan terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Dairi dalam beberapa hari terakhir. Antrean kendaraan mengular panjang, bahkan berlangsung berjam-jam, membuat para pengendara terutama sopir angkutan umum harus bersabar menunggu sejak dini hari hingga larut malam hanya untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Keluhan ini disampaikan langsung oleh para pengguna jalan. Salah seorang sopir angkutan umum bermarga Sinaga mengaku dirinya dan puluhan rekannya sudah mengantre sejak subuh hari. Bahkan, ia mendapati sejumlah kendaraan sudah menginap di lokasi SPBU sejak tengah malam, tepatnya pukul 00.30 WIB, jauh sebelum jam operasional dimulai.
“Kami rela mengantre dari subuh. Sudah seminggu belakangan ini seperti ini. SPBU baru buka sekitar pukul 07.30 WIB, tapi seringkali stok BBM, terutama solar, sudah habis antara pukul 11.00 hingga 12.00 WIB siang,” ungkap Sinaga saat ditemui di SPBU Jalan Pakpak, Senin (6/7/2026).
Pengelola salah satu SPBU di Kecamatan Sitinjo menyatakan bahwa kondisi ini bukan semata-mata karena kelangkaan pasokan. Menurutnya, kendala utama terletak pada keterlambatan pendistribusian. “Kuota sebenarnya masih normal seperti hari biasa. Keterlambatan pengiriman terjadi karena kemacetan parah di jalur lintas Medan–Sidikalang, ditambah adanya pembelian secara berlebihan oleh sebagian masyarakat. Kemarin malam saja kiriman baru tiba menjelang subuh,” jelasnya.
Namun di sisi lain, muncul sejumlah kejanggalan yang diamati oleh para pengantre. Di sela-sela kesulitan mendapatkan BBM di SPBU, mereka menyaksikan maraknya penjualan minyak secara eceran atau ketengan di pinggir jalan persis di sekitar lokasi SPBU,Batang Beruh dan kecamatan sitinjo Harganya pun jauh lebih mahal dari harga resmi.
“Inilah yang membuat kami bertanya-tanya. Kalau di SPBU harus antre berjam-jam dan sering kehabisan, kenapa di pinggir jalan selalu ada yang jual minyak ketengan dengan jumlah yang tak sedikit?” tanya seorang pengendara.
Masyarakat menduga kuat lemahnya pengawasan dari pihak berwenang, termasuk lingkungan Pemerintah Kabupaten Dairi. Diduga juga terjadi penyalahgunaan sistem pembelian, di mana ada oknum yang menggunakan kode batang atau barcode secara berulang kali untuk mengambil BBM melebihi batas yang ditentukan.
Menyikapi situasi ini, masyarakat meminta perhatian serius kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Dairi untuk memperketat pengawasan terhadap peredaran BBM. Mereka juga meminta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama jajaran Kepolisian Resor Dairi segera turun tangan mengamankan dan menindak tegas para penjual BBM secara ilegal di sekitar SPBU.
“Jika dibiarkan terus, selain merugikan pengguna jalan umum, praktik ini bisa mengganggu stabilitas harga dan ketersediaan BBM. Kami berharap ada tindakan nyata agar antrean panjang dan kelangkaan buatan ini segera berakhir,” harap warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pertamina selaku penyalur dan instansi terkait di lingkungan Pemkab Dairi belum memberikan pernyataan resmi terkait penanganan masalah ini.
(TIM/LTH)
























